eBaroroh

Just Enjoy and Feel the Game

Wujud Sayang Yang Berbeda

“Rin, iku ndang disapu omahe” perintahku kepada anakku yang paling kecil. Rini namanya duduk di kelas 5 SD.

“Sik, sik mangan aku. Ikuloh mbak Tina kongkonen nyapu, mosok aku terus?” Jawab Rini sambil memainkan makanan dan memperlama durasi makannya.

“Koen iku njawab thok, ndang dientekno mangan e. Mangan kok gak mari-mari ket mau. Mau njawab bar mangan arep nyaponi omah. Lah iki tambah nonton tipi”, ujarku sambil memarahi dan mencubit pahanya. Tak hayal, dia pun menangis kencang karena cubitanku. Sehingga dia menghabiskan makanannya sambil menangis. Dan akhirnya pekerjaan menyapu aku yang menyelesaikan. Namun setelah melalui drama seperti itu. itupun aku harus memandikannya dulu setelah mencubiti dia karena badannya menjadi kotor akibat makan sambil menangis. Sedangkan, kakaknya Tina, sedang mencuci piring yang lumayan banyak. Sebenarnya aku tidak tega untuk melakukan tindakan mencubit atau pun memarahinya seperti itu. Namun mendengar jawaban dia yang seperti itu membuat emosiku naik, apakah dia tidak melihat ibunya sedangkan mencuci pakaiannya?. Aku lakukan itu agar dia mengerti pekerjaan, membagi pekerjaan sesuai dengan porsinya, menyapu rumah mungil yang kita tempati. Rumah yang tidak terlalu besar, hanya berisi 2 kamar, satu ruang tamu, serta dapur dan kamar mandi. Akan tetapi, dia tidak bergeming.

Sangat berbeda dengan Tina. Memang jarak antara Rini dan Tina lumayan jauh, 7 tahun. Dimana, Tina sudah menjadi seorang anak gadis yang baru masuk kuliah, sedangkan Rini baru naik kelas 5 SD. Namun, aku tidak mau memanjakan Rini hanya karena dia paling kecil di keluarga ini. Aku harus mengajarinya untuk mengerti pekerjaan agar dia bisa tahu bagaimana hidup menumpang dengan orang, jangan hanya menjadi benalu. Karena aku tidak mau anak-anak merasakan hal yang sama seperti aku. Aku lahir dari keluarga yang kurang mampu sehingga untuk melanjutkan hidup saja, orangtuaku menitipkanku di saudara yang lebih berkecukupan secara materi. Karena sadar akan kondisi tersebut, maka aku hanya bisa membalas budinya dengan tenaga yaitu bekerja, mengerjakan apapun yang disuruh tanpa diperintah dua kali. Jadi ketika mendapatkan bantahan seperti yang dilakukan oleh Rini, aku sangat emosi. Dan lagi-lagi Rini menjadi sasarannya. Kadang saya melihat Rini sangat membenci kakaknya, karena Tina jarang sekali saya cubit atau saya marahi. Kenapa aku jarang memarahi Tina, karena Tina tidak pernah membantah.

Berbeda denganku, suamiku sangat menyayangi Rini. Dia selalu memberikan uang ketika Rini minta. Bahkan setelah marah pun, dia tak segan memberi Rini uang agar Rini berhenti menangis. Dan sering aku bilang ke Rini,” Enak yoo onok bapakmu, koen duitmu akeh. Bar nangis dike’i duwik” . Rini hanya bergelanyutan manja dengan bapaknya ketika kubilang seperti itu seakan-akan dia merasa menang ketika ada bapaknya di rumah.

Karena ekonomi yang cukup sulit, suamiku bekerja hingga ke luar kota. Dan pulang ke rumah hanya dalam beberapa hari saja. Oleh sebab itu, mereka hanya bertemu dengan ibunya setiap hari. Kami telah melakukan kesepakatan bahwa untuk masalah anak-anak yang mengurus adalah aku, mulai dari memandikan hingga mengajarinya membaca dan menulis. Sedangkan untuk mencari uang adalah suamiku. Tak jarang ketika mengajari menulis dan membaca aku juga menggunakan cara yang sama terhadap Rini, dengan sedikit kekerasan. Apabila aku sudah sangat lelah sekali, aku meminta Tina untuk mengerjakan PR adiknya. Kami berbagi peran seperti itu karena kami bercita-cita agar anak-anak dapat melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi bagaimana pun caranya. Karena hanya ilmu yang bisa kita berikan kepada anak-anak, sedangkan materi. Kami tidak mempunyai materi yang cukup. Kami hanya berharap kelak, ketika mereka sudah bisa sekolah hingga mencapai perguruan tinggi, mereka tidak akan hidup sengsara seperti kami.

Ah, Rini masih cukup kecil untuk mengerti hal tersebut. Tak usahlah saya jelaskan panjang lebar ke dia sebenarnya apa yang saya lakukan itu untuk kebaikan dia kelak di kemudian hari. Memang sih saya melihat dia seakan menyimpan dendam terhadap saya, terhadap apa yang saya lakukan ketika dia masih kecil. Namun, apabila saat itu tiba, ketika dia berada di posisi saya sebagai ibu, pasti dia akan merasakan hal yang sama. Bahwa sebenarnya aku sangat menyayanginya namun dengan cara yang berbeda. Karena kasih ibu itu hanya memberi tak harap kembali.

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia”.

03.06.2017 #30haribercerita #30harimenulis

Untuk para ibu : terima kasih atas Doa yang tulus yang engkau berikan kepada anak-anakmu ❤

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

judiantology.

..of koffein, of travelore, of miscellany loveness..

Setapak Aksara

Kalau Kau Merasa Miskin, Jalan-Jalanlah!

CHINESE GOVERNMENT SCHOLARSHIP

Your Guide to Chinese Government Scholarship

Jomblo Traveller betina

Travelinglah selagi Jomblo - Jomblolah selagi Traveling

Jejak Kaki

Catatan Perjalanan Dan Informasi Wisata

Travel "X"

Adrenalin, Survival, Dan Sedikit “Kenakalan”

it's.... just a note

Random Mindful Chat

nya's sweet escape

Just a (not too) Personal Diary

ndu.t.yke's life

{while & after sydney}

Crazy Cosmulator

perspective of a mad cosmetic formulator

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

today tomorrow

because life is about looking forward to the future

Kisyani's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Gadis, Gadis, Wanita

ternyata saya tidak sendiri!

Wonder To Wander

The Life of A Student of the Universe

indonesia360derajat

I read. I travel. I photograph.

%d bloggers like this: